Jurnal Teknologi Informasi dan Pendidikan
ISSN 2086-4981

STUDI TEROWONGAN JALAN RAYA PADANG – SOLOK

Yoszi Mingsi Anaperta
INTISARI

Padang - Solok jalan Solok memiliki lereng bukit tidak stabil akibat pemangkasan serta aktivitas manusia itu sendiri, sehingga akan beresiko tinggi untuk terjadinya longsor. Terowongan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang memungkinkan masa depan dalam mengatasi masalah ini. Sebagian besar terowongan sekarang dibangun dengan beberapa metode, salah satunya adalah metode empiris.

Klasifikasi massa batuan adalah pelopor metode desain empiris yang banyak digunakan dalam rekayasa batuan. Metode ini empiris terdiri dari sistem klasifikasi Tenaha dengan konsep beban batu, klasifikasi Laufer dengan konsep waktu stand-up, klasifikasi Deere dengan konsep indeks Batu Penunjukan Kualitas (RQD), konsep Batu Struktur Penilaian (RSR) dikembangkan oleh Wickham , Geomechanics klasifikasi Bieniawski dengan klasifikasi (sistem RMR) dan sistem Q oleh Karton.

Desain konstruksi terowongan tidak hanya berurusan dengan tanah yang umumnya dianggap isotropik (homogen dan terus menerus), tetapi sering harus berurusan dengan massa batuan anisotropik dan tidak kontinu (terputus). Daerah-daerah terputus sangat mempengaruhi beban perhitungan-beban yang bekerja pada terowongan, terutama massa batuan di atas lubang bukaan dalam karya-karya yang akan berguna untuk desain dukungan terowongan dan dinding terowongan.

Hasil empiris dari perhitungan yang digunakan di jalur terowongan Padang-Solok adalah 74,809 cm ​​dinding tebal, lebar 10 m, tinggi 6 m. Studi lebih lanjut untuk realisasi terowongan perlu lebih menyeluruh dan terfokus.

Kata Kunci :
Metode Empiris, Penandaan Kualitas Batu (RQD), konsep Batu Struktur Penilaian (RSR), sistem RMR, sistem Q


ABSTRACT

Padang – Solok roadway has Solok hillsides are unstable due to pruning as well as human activity itself, so it will be at high risk for landslide occurrence. The tunnel is one of the transportation infrastructures that enable future in addressing this matter. Most of the tunnels are now constructed by several methods, one of which is the empirical method.

Rock mass classification is the forerunner of the empirical design method that is widely used in rock engineering. This empirical method consists of the classification system Tenaha with rock load concept, classification Laufer with the concept of stand-up time, Deere classification with concept index Rock Quality Designation (RQD), the concept of Rock Structure Rating (RSR) was developed by Wickham, Geomechanics classification of Bieniawski with Classification (RMR system) and the Q system by Carton.

The design of a tunnel construction is not only dealing with land that generally considered to be isotropic (homogeneous and continuous), but often have to deal with the rock mass is anisotropic and not continuous (discontinuous). These discontinuous areas greatly affects the load calculation-load acting on the tunnel, especially the rock mass above the hole openings in the works that will be useful for the design of tunnel support and the tunnel wall.
Empirical results of the calculations used in the Padang-Solok lane tunnel is 74.809 cm thick walls; width 10 m, height 6 m. Further study for the realization of the tunnel need to be more thorough and focused.


Keyword :
The Empirical Methode, Rock Quality Designation (RQD), the concept of Rock Structure Rating (RSR), RMR system, Q system

Download file : 8-Vol6No1Mar2013- Yoszi Mingsi Anaperta.pdf